Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Thursday, January 17, 2013


PEMALANG- Pondok pesantren (ponpes) modern Al Manaar Muhammadiyah terus berbenah untuk mewujudkan visi dan misinya. Keberadaan ponpes yang didirikan Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Pemalang, itu sebelumnya sejajar dengan sekolah di kompleks perguruan Muhammadiyah. Kini, ponpes tersebut yang mengelola sekolah-sekolah di perguruan itu.

Direktur ponpes, Sapto Suhendro SAg mengatakan, sekolah yang berada di kompleks perguruan Muhammadiyah antara lain SMP Muhammadiyah 1, SMA Muhammadiyah 1, SMK Al Manaar Muhammadiyah dan Ponpes Modern Al Manaar Muhammadiyah. “Dulu ponpes dipimpin pengasuh pondok, sekarang dipimpin seorang direktur yang membawahi sekolah-sekolah di kompleks perguruan Muhammadiyah,” jelas Sapto.

Dengan demikian, ponpes berwenang menetapkan kebijakan untuk dilaksanakan sekolah-sekolah di perguruan itu. Dasar dalam menjadikan ponpes sebagai pondok terintegrasi adalah hasil musyawarah daerah (musda) PDM pada 2011. Dalam Musda, lanjut Sapto, ditetapkan program khusus bidang pendidikan yakni mengintegrasikan sekolah-sekolah Muhammadiyah di Jalan Markisa, Kelurahan Kebondalem, Kecamatan Pemalang. Sekolah tersebut berada dalam satu manajemen Ponpes Modern Al Manaar yang dipimpin direktur dan bertanggung jawab kepada majelis pendidikan dasar dan menengah PDM.

Menindaklanjuti hasil musda, pendidikan di kompleks perguruan tersebut dikelola maksimal sehingga semakin maju dan berkembang. Pada musim pendaftaran peserta didik baru tahun ini, sudah banyak masyarakat yang mendaftarkan anaknya untuk menuntut ilmu di sekolah tersebut. Sementara itu, dalam tutup tahun ajaran 2011/2012, ponpes menggelar kegiatan pelepasan santri akhir, di lapangan ponpes, Minggu(24/6). Selain diikuti para santri, kegiatan juga dihadiri wali santri dan keluarga besar Muhammadiyah. (K40-74)

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/06/24/190429/Al-Manaar-Menuju-Ponpes-Terintregrasi

Sumber : http://www.muhammadiyahjawatengah.org/index.php?tf=news&aksi=lihat&id=361
Posted by KoyanK On 4:55 PM READ FULL POST

Photo : deviantart.net


Pertanyaan:

Kita sudah maklum bahwa banyak perempuan Muslim yang belum memakai jilbab. Bahkan ada anggota Aisyiyah dan guru-guru perempuan  sekolah Muhammadiyah yang berjilbab hanya pada waktu berkegiatan di organisasi dan di sekolah. Sedangkan, waktu di rumah dan tidak  berkegiatan di sekolah mereka melepas jilbabnya. Mungkin mereka belum tahu hukumnya. Tanya: Apakah hukumnya memakai jilbab bagi  perempuan Muslim itu berbeda dengan hukumnya shalat, puasa dst?Bambang Soemedhi, NBM. 565.255, Denpasar Bali (disidangkan pada  hari Jum’at, 4 Muharram1432 H / 10 Desember 2010)Jawaban: Saudara yang terhormat, berikut ini jawaban atas pertanyaan saudara:Seorang Muslimah itu apabila telah baligh (tandanya adalah keluar darah haid) wajib menutup auratnya dari penglihatan orang yang bukan  mahramnya. Dan auratnya itu adalah seluruh tubuhnya selain wajah dan telapak tangan. Adapun ketika berada di dalam rumah bersama  mahramnya, seperti ayah, kakak dan adik laki-lakinya, maka dia boleh membuka kerudungnya dan memakai pakaian rumah yang sopan. Dasar  semua itu adalah firman Allah:Artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan     menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah  mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra- putra suami mereka, atau saudarasaudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau   pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan  janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung’”. (An-Nur [24]: 31)

Di dalam ayat ini Allah memerintahkan nabi-Nya untuk menyuruh   kaum Mukminat menahan pandangan dan menjaga kemaluan mereka, serta melarang mereka menampakkan perhiasan kecuali yang biasa nampak. Mereka juga diperintahkan untuk menutupkan kain kerudung sampai ke dada sehingga menutupi telinga dan leher, dan tidak  menampakkan perhiasan kecuali kepada mahram-mahram mereka. Ini semua menunjukkan bahwa kaum Mukminat itu wajib memelihara  aurat mereka dari penglihatan orang-orang asing.

Dan firmanNya: Artinya: “Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu  dan istri-istri orang Mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab  [33]: 59)

Di dalam ayat ini Allah memerintahkan nabi-Nya untuk menyuruh anak-anak perempuan dan istri-istri beliau sendiri serta kaum  Mukminat pada umumnya untuk memakai jilbab. Jilbab ialah sejenis baju kurung lapang yang menutup kepala, muka dan dada. Menurut  al-Qurtubi, jilbab adalah pakaian yang menutup seluruh badan. Dengan kata lain, ayat ini menyuruh kaum Mukminat yang telah baligh untuk  menutup aurat mereka supaya mudah dikenali sehingga tidak mendapat gangguan.

Dan Hadits Nabi saw berikut: Artinya: “Diriwayatkan  dari Aisyah ra. bahwa Asmak binti Abu Bakar mendatang Rasulullah dengan memakai baju yang tipis sehingga Rasulullah saw.  berpaling darinya dan bersabda: “Hai Asmak, sesungguhnya perempuan itu jika telah mencapai usia haid maka tidak boleh tampak  darinya kecuali ini dan ini”. Beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangannya” (Abu Dawud dan beliau berkata: Ini adalah Hadits mursal   Khalid bin Duraik, dia tidak pernah bertemu dengan Aisyah ra.)

Hadits ini menguatkan isi kandungan kedua ayat di atas, yaitu kewajiban  seorangwanita Muslimah yang telah baligh untuk menutup auratnya, dan auratnya itu — menurut Hadits ini— adalah seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangannya.

Namun realitanya seperti apa yang saudara katakan. Masih banyak wanita Muslimah yang tidak  menaati ajaran Islam yang mulia dan memuliakan wanita ini. Dalam memahami dan melaksanakan perintah Allah yang wajib hukumnya ini   kaum Muslimat berbeda-beda peringkatnya. Ada yang memahami kewajiban berjilbab lalu melaksanakannya dengan baik sebagaimana diperintahkan. Ada pula, yang memahaminya tapi melaksanakannya setengah- setengah atau pilih-pilih tempat seperti yang anda   ungkapkan. Dan ada pula yang memahaminya tapi malas atau enggan melaksanakannya karena beberapa alasan seperti merasa malu atau  tertekan atau susah berjilbab karena tidak biasa sejak kecil dan seterusnya. Padahal kewajiban menutup aurat ini sama dengan kewajibankewajiban lainnya dalam ajaran Islam seperti shalat, puasa dan haji.

Hukum wajib itu artinya harus atau mesti dilaksanakan dan  tidak boleh ditinggalkan, dan bagi yang melaksanakannya akan di beri pujian dan pahala oleh Allah, sementara orang yang  meninggalkannya akan mendapat celaan dan dosa. Namun perlu dijelaskan pula bahwa dalam ajaran Islam, halhal yang diwajibkan itu  meskipun samasama berdosa jika ditinggalkan, tapi dosadosa itu juga berperingkat-peringkat. Contohnya, Muslimah yang tidak mau berjilbab  karena malas atau enggan dosanya tidak sama dengan dosa Muslimah yang tidak mau shalat lima waktu karena malas atau enggan    misalnya. Ini karena shalat itu rukun Islam sementara berjilbab itu bukan. Contoh lain, Muslimah yang menampakkan sebagian kecil auratnya   tentu dosanya berbeda dengan Muslimah yang menampakkan sebagian besar auratnya. Ini karena menampakkan sebagian besar    aurat lebih berat dibanding menampakkan sebagian kecilnya. Demikian seterusnya.

Yang jelas, melihat realita yang ada di alam masyarakat  kita ternyata berbeda dengan perintah Allah dan Rasul-Nya tersebut, maka sudah menjadi kewajiban kita semua untuk beramar-makruf dan   nahimunkar. Hal ini tentu seharusnya dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga kita masing- masing. Hendaknya kita mendidikkan perintah  Allah dan Rasul-Nya dalam masalah menutup aurat ini kepada anak istri dan perempuan-perempuan yang menjadi tanggungan kita.  Kemudian, kaum wanita yang satu dakwah dan pergerakan dengan kita. Lalu barulah masyarakat luas yang ada di sekeliling kita. Semoga  dengan demikian ajaran menutup aurat yang mulia dan memuliakan kaum wanita ini dilaksanakan oleh kaum Muslimat dengan penuh  kerelaan dan kesadaran yang tinggi. Amin.

Wallahu a’lam. *mi)l

 

Artikel dari http://www.muhammadiyah.or.id

Posted by KoyanK On 4:38 PM READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Labels

Saling Sapa Yuuuk

Categories

    Anda Pengunjung Ke

    unique visitor

    Blogroll